Kamis, 15 Juli 2010

Saat Sastra(wan) Jadi Komentator Lapangan

Esai Misbahus Surur

Permainan sepak bola efektif dan permainan alur cantik, mana yang lebih menarik? Jamak pengamat bilang, yang pertama barangkali representasi permainan Inter Milan di bawah kendali Jose Mourinho. Sedang yang kedua, lebih ke model permainan klub-klub Spanyol, terutama Barcelona di bawah tangan dingin Josep Guardiola.

Lalu, bagaimana aksi lapangan negara-negara peserta Piala Dunia tahun ini. Adakah permainan cantik, setidaknya, mampu dipelopori negara-negara bertabur bintang, semisal Brasil, Argentina, Spanyol, Italia atau Belanda? Ah, bukankah dalam pergelaran empat tahunan itu, model permainan cantik tak terlalu diminati atau bahkan tak pernah menjadi prioritas. Sebab, ketika sudah tiba hajatan paling akbar itu, yang mutlak dibutuhkan sebuah tim adalah kemenangan, bukan godaan bermain cantik. Permainan sepak bola Eropa, berikut tipe Amerika Latin di klubnya masing-masing, memang bisa kita akui sebagai cermin permainan kelas tinggi. Tapi, dalam Piala Dunia 2010 ini, berderet superioritas itu bukan jaminan untuk memainkan sepak bola indah, bukan?

Jika demikian halnya, bisa jadi, kita malah menonton hal-hal linear dan normatif belaka. Ringkasnya, tak pernah ada permainan yang memukau, trik-trik yang menarik, juga gocekan-gocekan cergas dan tangkas. Lebih lagi, tuntutan untuk bermain terbuka, di mana ketika peluit wasit ditiup, permainan bergulir tanpa beban apa pun yang dibawa pemain; beban patokan gol, keharusan memenangi pertandingan juga beban untuk bermain secara baik.

Sudahkah kita temukan secercah tarian bola indah pada diri Jabulani—nama bola resmi Piala Dunia di Afrika Selatan? Alih-alih, dalam sebuah tim dengan kualitas dan kalkulasi pemain di bawah rata-rata, misalnya, sekelas Afrika Selatan, Aljazair, Swiss ataupun Jepang, mereka harus mengintroduksi permainan cerdas: siasat dan perhitungan matang juga strategi yang jitu. Pendeknya, teknis belakalah yang harus diunggulkan. Entah terkait pola menyerang, pola pertahanan, pola untuk bisa mendapatkan suplai bola dan memasukkan bola ke jala lawan.

Selain hal-hal urgen di atas, sebuah permainan tentu sangat terikat dengan seperangkat aturan. Kelak, dari jalinan regulasi yang diterapkan wasit hingga realitas di lapangan itu, akan menuturkan cerita dan peristiwanya sendiri. Tak peduli di sana mengemuka fenomena yang lumrah-lumrah saja ataupun janggal. Toh, dari berbagai peristiwa itu nantinya akan ada yang dikenang, meskipun ada pula yang segera dilupakan. Pun sejumlah pemainnya bisa menjelma pahlawan kendati tidak sedikit yang menjadi pecundang. Yang jelas, ihwal yang menyertai pertandingan demi pertandingan tersebut akan semakin menggenapkan anggapan kita bahwa para manusia (lapangan) adalah sang homo ludens, makhluk yang suka bermain.

Tetapi, dari sekian permainan yang kerap dihelat, barangkali masih jarang yang memperhatikan bagaimana perasaan rumput dan bola di lapangan, juga bagaimana pikiran gawang dan benda-benda di stadion. Kalaulah ada yang mengajak kita merenungkan hal yang renik itu, mungkin cuma sedikit. Dan yang sedikit itu, termasuk penyair Hasan Aspahani (HA). Ya, di saat banyak peminat sepak bola biasa menikmati permainan lewat cerdasnya gocekan bola pemain, juga segala keindahan yang terpampang di sana.

Aspahani malah mengomentari benda-benda mati yang berserakan di lapangan. Seolah ia menahbiskan dirinya sebagai penyambung lidah benda-benda tak bernyawa itu. Lalu menghidupkan sebuah adegan di lapangan kata-kata, tak kalah meriah dari yang terhidang di lapangan bola. Sangat jadi, ini upaya Aspahani untuk mengintegrasikan tema-tema yang alpa digarap dan dieksperimentasi penyair-penyair lain. Lagi pula, benda-benda itu memang jarang ada yang mau mengomentari, apalagi menyelami keluh-kesahnya.

Dalam sajak Malaikat Penjaga Gawang, misalnya, sehabis pertandingan, si kulit bundar tertidur pulas dan bermimpi protes pada malaikat penjaga gawang: “Kenapa engkau halangi aku menyentuh jaring-jaring gawang itu? Kenapa setiap kali aku ada di dalam tenteram tanganmu, kau tendang lagi aku ke tengah-tengah lapangan untuk diperebutkan?”. Seperti seorang anak kecil, sang bola berkeluh, menandas-lunaskan segala yang dirasakan. Karena sejujurnya, ia ingin tenteram pulas di jala, tak ingin diperebutkan lagi. Sudah malas dikejar-kejar sekian puluh pemain, tiap kali pertandingan digelar. Tapi sungguh malang nasib sang bola, sia-sia ia bertanya dan berusaha membela diri karena keluhannya tak pernah dapat jawaban “karena” atau “sebab”.

Pada sebuah pertandingan penutup (final), seharusnya tak ada kata imbang karena yang diharapkan masing-masing tim adalah kemenangan. Kemenangan di sini dalam arti siapa yang paling banyak memasukkan bola ke gawang lawan, bukan pada tingginya ball possession, kebagusan strategi atau unggulnya kapasitas pemain. Yang juga tidak seperti pertandingan penyisihan yang sah-sah saja terjadi imbang (tanpa gol atau gol yang dihasilkan sama). Maka, jika dalam pertandingan tak terdapat gol, bagaimana mau digelar sebuah pertandingan final. Tapi, inilah yang terjadi dengan “Pertandingan Penghabisan” versi Hasan Aspahani. Dengan atraktif, satire dan menohok, Aspahani memain-mainkan bola liar kata-katanya: Tuhan, Engkau tidak usah nonton, kan? Memang sebaiknya sejenak kami Engkau tinggalkan. Jangan pernah lagi Engkau main tangan, bikin gol ke gawang salah satu dari kami, doa seorang kapten sebuah kesebelasan. Seolah kesebelasan satu tak mau menyakiti kesebelasan lawan, dengan jalan membuat gol. Setelah perpanjangan waktu, disertai ceceran kartu kuning dan merah yang mengganjar tackle-tackle kotor para pemain, gol pun tetap tak terjadi. Dan, doa kapten tim itu sungguh-sungguh dikabulkan Tuhan.

Perhelatan sepak bola di zaman modern ini, tentu bukan sebuah permainan biasa tetapi sudah menjelma sebagai ritus yang menerabas sekat-sekat wacana dan tradisi, dengan segala peranti kepentingan yang terselip di dalamnya. Membaur pekat di dalam maupun di luar lapangan, dari yang unik hingga soal mistik, dari yang renik hingga yang klenik, bahkan dari yang fantastis hingga yang erotis. Menyatu dalam helat permainan bersama riuh tempik-sorak penonton. Dan, lamat-lamat, penonton pun sering main spekulasi sendiri. Serasa kepala mereka dipenuhi rumus-rumus probabilitas. Dan seperangkat probabilitas itu bukankah sangat karib dengan mental penjudi? Inilah yang diulas dengan kemasan ironik dalam salah satu sajak Aspahani. Di mana tiap datang event Piala Dunia, selalu tak bisa lepas dari kepentingan di luar lapangan: semarak perjudian. “Saya yang berjudi nyawa di lapangan, mereka enak saja adu nasib di meja perjudian,” keluh seorang pemain bola dalam Lengking Peluit yang Lama Tak Ia Perhatikan (hlm 48).

Dalam dunia sajak, kata Goenawan Mohamad, riwayat kata dan tubuh adalah dua entitas terbatas yang dibujuk oleh sesuatu yang tak berhingga. Dalam sajak-sajak Aspahani, riwayat dua entitas itu seakan terwakili sekaligus oleh hadirnya buku antologi sajak Telimpuh (Koekoesan, 2009) ini, khususnya pada tema Malaikat Penjaga Gawang. Setidaknya, di sini, persamaan antara bola dan sastra, adalah sama-sama ingin memperlihatkan setangkup keindahan. Jika yang pertama berusaha memamerkan keindahan lewat utak-atik benda berkulit bundar hingga sedap dipandang mata. Maka yang lain, adalah upaya memainkan kata-kata dengan balutan keindahan bahasa, agar pembaca tercerahkan: katarsis.

Melalui sajak dialog maupun monolog, Aspahani berusaha menghidupkan benda-benda mati di lapangan. Ia seolah tengah mengamalkan laku dan prinsip meditasi "kemudian". Sajak "kemudian" bagi Aspahani adalah sajak yang terus-menerus menawarkan pembaruan dan kebaruan kata-kata. Tapi tetap dibimbing dialog-dialog yang cerdas. Dalam sajak Setelah Sebuah Gol umpamanya, bagaimana monolog bola itu mampu ia bangun secara ambigu tetapi juga menyiratkan pertanyaan eksistensial sehingga pembaca seperti digelitik untuk mempertanyakan apa kepentingan penonton dalam permainan sepak bola yang ia tonton.

Sebagaimana kredo "tetapi" yang diteguhinya, dalam sajak Solilokui Sang Bola Kaki, Aspahani seperti ingin menunjukkan sepenggal "tetapi" itu. "Tetapi" adalah penghubung dua kalimat atau frasa yang bertentangan. "Kenapa semua tentara tidak dilatih menjadi pemain sepak bola saja?... Mungkin dunia akan lebih damai, kalau/wajib militer diganti wajib main bola? Dan suara-suara tembakan pun berganti/menjadi riuh penonton di lapangan sepak bola?... Bukankah dengan demikian, tak ada orang biasa/yang terluka? Atau bahkan jadi korban sia-sia” (hlm 56). Membaca penggalan sajak ini, kita seolah-olah digiring untuk merenungi kata-kata Aspahani berikut: "Bila dunia menampakkan A, maka penyair harus menemukan dan menghadirkan B dalam atau dengan sajak-sajaknya". Dalam sajak-sajak yang khusus bertema sepak bola ini, Aspahani seperti tak henti membuat kejutan-kejutan baru, ia terus berlari mengejar bola kata-katanya, untuk kemudian melunaskan setiap ciptaan dalam situasi estetiknya sendiri.

Oleh: Misbahus Surur, penyuka sepakbola, sekolah S-2 di UIN Maliki Malang

(dimuat Lampung Post 26 Juni 2010)

Modernitas yang Dilecut Kartini

Esai Misbahus Surur

KARTINI lahir dan besar dalam lingkup keluarga ningrat Jawa yang feodalis. Alur hidupnya dikerubungi tarikan norma serta konvensi yang sering eksploitatif, terutama pada persoalan gender. Hampir-hampir perempuan tak punya andil, lebih lagi nyali untuk menyibak jalur terang sendiri.

Perempuan kerap dijerat patriarki, dicengkram hegemoni lelaki. Perempuan di zaman itu, kata Siti Soemandari Soeroto dalam Kartini; Sebuah Biografi (Gunung Agung: 1982) karena akar dan konstruk budaya, sangat bergantung sepenuhnya pada nafkah suami, dengan dalih takut dicerai dan sejenisnya. Ditambah suburnya pandangan hidup yang mengalienasi perempuan; ia tak memerlukan kepandaian, mengingat fungsi utamanya yang semata konco wingking bagi lelaki: sekadar masak, macak, dan manak. Sebab itu, bagi puteri kedua Bupati Jepara R. M. Adipati Ario Sosroningrat ini, prestise nasab yang secara kodrat harus ia terima, tak lagi menjadi suatu privilese, tapi tak lebih dari senarai duka-lara.

Meskipun demikian, berbahagialah ia yang lahir dari keluarga (ayah hingga kakek, Pangeran Ario Tjondronegoro) yang menjunjung tinggi pengetahuan, memuliakan pendidikan, dan mentradisikan sekolahan. Dengan memiliki ayah yang menyadari urgensitas ilmu seperti itu, belenggu adat pun tak menghalangi sang ayah untuk menyekolahkan anak perempuannya. Meskipun hanya memperbolehkannya hingga tingkat sekolah dasar.

Namun, sebagaimana kata Sulastin Sutrisno dalam Surat-Surat Kartini (Djambatan: cetakan 1985), meski keinginan Kartini melanjutkan ke HBS Semarang, setamat dari ELS, yang menggebu itu kemudian begitu saja dijegal kata "tidak", sang ayah mengganti keputusan itu dengan "jenis studi lain" yang tak kalah seru; memfasilitasi bacaan dan izin selebar-lebarnya untuk surat-menyurat kepada teman-temannya yang mayoritas berbangsa Belanda.

Tak disangka, justru karena akses buku-buku (membaca) dan habitus korespondensi itu, menjadi pintu masuk ide, pencerahan dan modernitas yang menghantarkan jiwa dan pikirannya menjadi pribadi yang tak biasa. Kartini belajar segala-galanya lewat buku juga berlatih menyatakan pikiran (berdialektika) melalui surat-menyurat. Dengan langgam ini, pelan tapi pasti cara berpikir dan kejiwaannya menjadi matang saat usianya masih begitu belia, belum lagi genap 20 tahun dari umurnya.

Waktu itu, iklim modernitas telah merasuki pikiran Kartini. Ia telah mendidik diri dan otaknya dengan pikiran-pikiran Barat lewat bacaan-bacaan. Meskipun ia tidak bisa seperti kakaknya, Sosrokartono, yang mampu menyesap putik modernitas langsung di negeri asalnya (Belanda). Tempaan berbagai bacaan itu, di mana seluruh pikirannya sengaja ia biarkan berdialektika dengan persoalan-persolan bangsa dan jerat tradisi. Dan, terutama perjumpaannya dengan dunia Barat lewat beberapa orang Belanda yang mewujud dalam hikayat korespondensi, yang kemudian melahirkan ratusan surat yang diterbit-bukukan dengan judul Door Duisternis tot Lich (DDtL) oleh Luctor et Emergo, �sGravenhage juga oleh Gee Nabrink, Amsterdam, atau dalam versi Indonesia, Habis Gelap Terbitlah Terang, dalam kadar tertentu, ikut menyumbang bentuk dan konstruksi pikirannya saat itu. Dalam kumpulan surat-surat tersebut, entah itu kepada Mr. J.H. Abendanon sekeluarga, Estella Zeehandelaar, Nyonya M.C.E. Ovink-Soer, Nyonya Nelly van Kol, Dr. N. Andriani dan seterusnya, sungguh penderitaan, benturan-benturan hebat, tentang keterbelakangan bangsanya dan segala keluh kesahnya, begitu kuat tergurat di sana.

Jejak yang Menyala

Kartini bukan sastrawan maupun seniman dalam pemaknaan normatif, tapi sejarah mencatat, selain melukis, membatik, dan kumpulan surat-suratnya yang masyhur, ia juga menulis prosa dan puisi. Mungkin, bukan kumpulan surat-suratnya dengan kapasitas yang menyejarah itu yang membikin namanya sanggup menggema dalam lembaran catatan dunia. Bisa jadi, malah sebuku gagasan dan ketinggian susunan kemasan (bahasa) itu yang membuat namanya harum.

Jamak diketahui, Kartini adalah sosok dengan kemampuan literer yang menawan. Mutu sastra pada tulisan-tulisannya yang terbukukan dalam DDtL, sering dinilai sebagai hal yang jarang atau asing bagi zamannya. Terlebih saat ditelisik dari riwayat pendidikannya yang hanya tamatan sekolah rendah. Tak heran pula bila pada awalnya banyak yang meragukan orisinalitas DDtL, terutama karena kemasan bahasa DDtL yang cenderung muluk tapi juga patetis untuk seorang yang hanya lulus sekolah dasar, Europe Lagere School (ELS).

Namun, saat manuskrip aslinya ditemukan, dan diterbitkan kembali dengan tanpa secuil sortiran pun oleh Jaquet tahun 1987, baru terbukti secara meyakinkan bahwa Kartini benar-benar mampu menguasai pemakaian gaya bahasa Belanda, secara bagus dan kreatif. Bahkan, A. Teuuw (1994), dalam Indonesia Antara Kelisanan dan Keberaksaraan, yang pada awalnya sempat tak mempercayai putri Jawa yang hanya lulus sekolah tingkat dasar Belanda, serta belajar privat secara terbatas itu dapat menulis dalam bahasa Belanda, yang tidak hanya tata bahasanya yang tanpa cela, tetapi penguasaan dan penggunaan gaya kesusastraan Belandanya yang mencengangkan, terpaksa harus memercayainya. Dalam hal ini keunggulan Kartini terletak pada renungannya yang dalam atas dirinya juga nasib bangsanya. Renungan itu dibalut dengan tuturan segar, orisinil, dan amat piawai. Bahkan, beberapa pengarang Belanda saat itu, salah satunya Augusta de Wit, juga menilai bahasa Kartini cakap dan segar.

Tahun 1911, surat-surat Kartini untuk pertama kali diterbitkan. Dan pada tahun 1922, untuk yang pertama kali pula diterjemahkan dalam bahasa Melayu. Sejak kemunculan surat-surat Kartini dalam bahasa Melayu, 16 tahun kemudian, dengan dialihbahasakan oleh salah seorang sastrawan pujangga baru, Armijn Pane, tepatnya tahun 1938, surat-surat Kartini terbit kembali dalam bahasa Indonesia yang masih kecampuran kata-kata Melayu. Terbitan kali ini agak terbatas, yakni dengan sengaja menanggalkan sejumlah 16 surat, di samping juga terdapat surat-surat yang dipotong. Dan tebalnya tak lebih dari separuh dari edisi 1922.

Kemudian pada 1979, dengan menggunakan edisi kelima dalam bahasa aslinya (Belanda) terbitan 1976, dan dengan tambahan surat-surat Kartini yang lain, atas usaha Soelastin Sutrisno, surat-surat itu diulangterbitkan dalam edisi Indonesia yang jauh lebih lengkap dan sempurna dari dua edisi terdahulu. Dengan bubuhan tajuk baru: Surat-surat Kartini; Renungan Tentang dan untuk Bangsanya. Baru setelah itu, sekira tahun 1987, surat-surat asli Kartini dalam edisi F.G.P. Jaquet, terbit. Edisi kali ini, di samping memuat surat-surat Kartini kepada keluarga Abendanon secara lengkap, juga menyertakan beberapa surat dari adik-adik Kartini: Kardinah, Roekmini, dan Kartinah (Teeuw, 1994).

Tampaknya terbitan surat Kartini, baik dalam teks aslinya yang berbahasa Belanda dan juga terjemahan awal dalam bahasa Melayu tahun 1922 oleh empat orang pribumi ahli bahasa Melayu yang tinggal di Belanda, salah satunya semisal Zainoedin Rasad, atas usaha Abendanon, dan juga surat-suratnya setelah itu, bukan saja kekayaan literatur historis bangsa yang harus dijaga. Lebih dari itu adalah buah usaha yang patut dilestarikan sebagai pengayaan kehidupan rohani Kartini dan spirit kemanusianya yang tentu masih aktual diteladani hingga hari ini.

Pada titik ini, --terlepas dari dilematika yang sering dilekatkan ke sosoknya, seperti Kartini produk brilian hadiah Belanda dan semacamnya-, Kartini adalah subjek yang menemukan dirinya di atas puing-puing reruntuhan tradisi feodalisme hegemonik. Lantas diraihnya cahaya modernitas; menjadi manusia pembelajar bagi bangsanya.

Tak urung, �si anak durhaka� pada adat moyangnya ini adalah buah dari sintesa zaman. Dengan topangan semangat dan kesadaran untuk memahami, mencerna kemudian mengambil nilai-nilai baru dari pertemuan dua arus kebudayaan yang berbeda, demi kemajuan kebudayaan bangsanya. Pramudya Ananta Toer dalam Panggil Aku Kartini Saja, pernah menganalogikan begini: jika Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi adalah kunang-kunang di tengah malam gelap-gulita di rimba belantara yang hendak ditaklukkannya, Kartini merupakan obor dengan minyak pengetahuan dan pemikiran yang lebih masak dengan oktan yang lebih tinggi sebagai sesama gaba-gaba dalam sejarah kebudayaan Asia Tenggara.

Oleh: Misbahus Surur, esais, pegiat buku, mahasiswa pascasarjana UIN Maliki Malang

(dimuat Lampung Post 25 April 2010)

Menuju Kematian yang Puitis

Manusia jamaknya memang selalu merasa alergi saat berhadapan dengan ihwal kematian. Seolah kematian terus-menerus mengeram dalam ceruk kekhawatiran.

KEDATANGAN maut adalah ujung bagi waktu yang membeku, juga seperti lupa yang merenggut ingatan kita. Maut menderu-deru seperti angin, menjerit di pori-pori nyawa. Berburu waktu dengan manusia, meski akhirnya ia menyeringai di depan dengan genggaman temali kepastian. Maut bagai kutukan yang merangsek ke dalam hidup, berselubung misteri dan teka-teki. Dan Tuhan sengaja tak memberi manusia porsi pengetahuan yang memadai untuk mengungkapnya. Manusia hanya terus diiming-iming, bahwa saatnya nanti ia akan bertemu ajal. Meski ingatan perihal itu tak kunjung membikin manusia takluk.

Hidup hanya menunda kekalahan, kata Chairil Anwar dalam sajak Derai-derai Cemara. Kekalahan yang boleh jadi tersirat di pikiran Chairil saat itu sebagai ketakutan manusia akan tibanya ajal/mati. Sebuah kekalahan telak, karena tak ada ruang di mana manusia dapat melawan atau lari menyingkir. Namun, seorang Chairil agaknya masih berusaha memanfaatkan hidupnya meski manusia akan kalah juga. "Hanya ada satu hal yang nyata, kematian," kata Najib Mahfud. Kendati ia bukan sebuah kenyataan yang memastikan diri dalam ruang dan waktu yang presisi; karena manusia tak pernah tahu kapan, sebab, dan di mananya. Maka, kita adalah kematian dan anak dari kematian, tambah Mahfud, pada salah satu halaman novel Aulad Haratina.

Kalau kita cermati, akhir-akhir ini, kian jarang orang yang berpikir perihal (ke)mati(an). Alih-alih sekadar krentek dalam pikiran, berkelebat dalam benak saja tidak. Seolah kematian menjadi barang yang terlalu mewah untuk dipikir-renungkan. Kondisi seperti itu, membikin pemaknaannya menjadi dangkal, nirpenghayatan dan jarang sekali diingat-ingat. Apalagi saat-saat sekarang, perkembangan teknologi mutakhir kian memberi dampak serius bagi terenggutnya nilai kesadaran, spiritualitas dan penghayatan. Kehidupan yang serbacepat berakibat turunnya penghayatan manusia akan makna kehidupan. Di sisi lain, sains modern dengan meminjam tangan ilmu biologi, kedokteran, dan keilmuan medis lainnya, tak kalah kuasa mereduksi esensi kematian. Bahkan, saat ini, dominasi besar-besaran paradigma saintifik ke dalam tubuh pengetahuan modern, kerap memiuhkan makna kematian. Akibatnya, makna kematian menjadi dangkal, terkapar dalam simplifikasi. Bahkan ia tak lagi menjadi pengalaman yang menggetarkan hati, tetapi sekadar fragmen kehidupan yang biasa.

Pelibatan ilmu pengetahuan dengan mendayagunakan pengalaman langsung; mencicipi detail lekuk kematian, menyelam dalam denyutnya yang abstrak, kian jarang. Lapisan kesadaran manusia modern gersang tergusur habitus mereka yang absurd. Dulu saat humanitas hanya didudukkan sebagai yang pasif, beberapa filsuf, seperti Kierkegaard, Husserl, juga Hiedegger, pernah menyerukan kembalinya eksistensi manusia beserta segenap keunikannya. Kierkegaard, misalnya, memahkotai humanisme dengan segala makna dan perantinya; hidup-mati, bahagia-sengsara, juga soal kebebasan, yang kemudian memuncak pada dimensi diri dan spritualitas kehidupan. Menurut Kierkegaard, ketika apa yang paling dekat dengan manusia itu (baca: kematian) makin tak dikenali, maka eksistensi manusia perlahan-lahan menjadi redup dan suram.

***

Sungguh memang maut amat misterius. Kemisteriusan itu bukan karena diri kematian itu, melainkan karena tak pernah ada manusia yang mampu mengetahui kedatangannya. Ia hampir selalu datang mendadak, tak pernah berikat janji ataupun kontrak yang serbapasti. Mendiang Chairil Anwar misalnya, pernah menyinggung perihal ajal dalam sajak Yang Terampas dan Yang Putus: Di karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru angin// Aku berbenah dalam kamar// Dalam diriku jika kau datang// Dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu// Tapi hanya tangan yang bergerak lantang. Sajak ini adalah sajak kelam nan muram untuk menyambut derap kematian saat dirasa makin dekat. Kematian yang ditakzimi Chairil dengan ikhtiar melawan. Meski bekal dan persiapan bisa jadi belum matang. Atau taruhlah gegap kematian yang ditebar Pramudya Ananta Toer dalam novel Bukan Pasar Malam : “...Detik demi detik lenyap ditelan malam. Dan dengan tiada terasa umur manusia pun lenyap sedetik demi sedetik ditelan malam dan siang ....Di mana pun juga dia menampakkan dirinya. Di mana pun juga dia menyerbu ke dalam kepala dan dada manusia..." Kemudian diteruskan lewat aforisme lain yang padat nan serasa lebih menyentak, "... dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana." Sebuah parafrase, yang seakan terpacak rapi dalam pikiran Pram untuk senantiasa memprotes peran manusia yang kadang dikerdilkan dirinya sendiri; sekadar menjalani hidup dan kemudian menerima begitu saja takdir kematiannya.

Chairil, Pram, juga Mahfud adalah orang-orang yang sanggup menyambut kematian. Tapi mereka bukan manusia yang tak gentar terhadap maut. Mereka hanya punya langkah tepat untuk menghadapi kematian, bahkan ikhtiar melawannya. Tentu saja saat kehidupan menjadi nirmakna dan tak seyogianya, jalan satu-satunya bukankah hanya dengan bekal melawan. Pada titik ini, agaknya mereka menginsafi kematian sebanding dengan menghargai kehidupan; kehidupan yang didedikasikan secara penuh seluruh pada kemanusiaan. Tersebab itu, mereka melawan berbekal keberanian, meski akhinya akan (di)tiada(kan). Mereka sadar, bahwa ketiadaan itulah kebenaran sesungguhnya. Dan kesiapan untuk ditiadakan adalah langkah satu-satunya menyambut keberanian hidup yang tanpa konformitas.

Sebab itu, pada batas tertentu mereka bukanlah barisan manusia kalah. Barangkali keyakinan mereka sebagaimana pemerian Paul Tillich: “Keberanian adalah peng-iya-an dan afirmasi diri ketika kita tidak ber-ada." Maka, ketiadaan/ kematian akhirnya mereka sambut bukan sebagai afirmasi atas kegentaran terhadap mati, melainkan hanya sebagai satu-satunya langkah sublim menyambut ketiadaan. Mereka seperti orang-orang bebas lainnya, betapa mereka memandang hidup itu bukan hal-hal biasa dan sewajarnya. Kehidupan kadang menjelma bak sebujur jasad sakit yang diluberi limpahan anakronisme; dusta, rekayasa, juga euforia di sekujurnya, di mana kebebasan harus selalu diperjuangkan. Untuk itu, hidup bagi mereka bukan irama harian yang melenggang tenang, melainkan jalan berliku penuh kerikil dan kegelisahan. Siapa berani menantang hidup, harus berani menenteng kematiannya. “Berani hidup tak takut mati, takut hidup mati saja”. Begitulah mungkin aforisma orang bijak yang pantas untuk mereka. Frase ini terasa subtil untuk menyambut tibanya ajal, terlebih saat kematian berbalik menggentarkan. Sekali berarti, sudah itu mati, tegas Chairil.

Kematian memang akhir dari pergulatan hidup. Ending dari drama kehidupan manusia. Tapi bagi Chairil, Pram, juga Mahfud kehidupan yang tunai oleh buah kemanusiaan yang telah disepuh dengan berbagai lembar kisah tragis kehidupan itu, dengan beberapa episode yang berlalu silih berganti, bukanlah akhir yang berkesudahan. Ia tak harus ditangisi dan dirutuki sedih. Biarlah ia lari ke uzurnya, karena memang tak ada guna untuk digerutui. Seperti kata Chairil: kalau sampai waktuku, ku mau tak seorang kan merayu. Karena, sebagai “binatang jalang”, ia ingin tetap meradang menerjang, tanpa rayuan apalagi sedu sedan.

***

Ingat akan mati mungkin memang satu-satunya jalan adiluhung saat perjalanan manusia di dunia ini didapati hanya melacurkan diri dalam dusta-dusta peradaban, kebudayaan, kesejarahan, dan seterusnya yang ujung-ujungnya mendustai dirinya sendiri sebagai makhluk Tuhan yang hakikatnya dibekali beban sekaligus amanah besar (khalifatullah fi al-ardh) menjaga kosmik tetap lestari dan seimbang. Pada tahap ini, ada beberapa momen berharga yang patut dibentangkan dalam gelaran peristiwa kelahiran sekaligus perkabungan manusia -mengutip kata hukama' (ahli hikmah): "jadikanlah kelahiranmu dipenuhi derai senyum kegembiraan yang mengembang. Dan kelak, saat tiba ajal kematianmu, jadikanlah manusia yang menghadirinya semata berkeinginan merayakan bersama ratap tangis, sembari tak putus-putus mengingat jasa-jasa yang kau toreh pada sejarah hidupmu". Bisa jadi, inilah kredo puitis bagi yang hidup hendak bersiap mati. Wallahu 'alam

Oleh: Misbahus Surur, peminat sastra, mahasiswa S-2 UIN Maliki, Malang

(dimuat Lampung Post 11 April 2010)

Selasa, 13 April 2010

Menelisik Formalisme Arab


Judul Buku: Teori Kritik Sastra Arab: Klasik dan Modern
Penulis : Sukron Kamil
Penerbit : Rajawali Pers, Jakarta
Cetakan : I, 2009
Tebal : xxviii + 265 hlm

KELAHIRAN karya sastra bak kelahiran anak manusia, ia muncul begitu saja di tiap-tiap jenjangnya, tanpa terikat oleh adanya sebuah aturan. Namun, tanpa kritik sastra yang memadai karya sastra terkesan tak berimbang. Sebab, munculnya karya sastra dan kritik, lazimnya berjalan beriringan, sehingga tercipta iklim sastra yang hebat.

Dalam ranah kesusastraan Arab, kritik sastra menjadi keniscayaan saat kerja sastra hanya menandaskan pada capaian produk (tifitas) karya; semisal pertaruhan kualitas literer juga keberanian menerjang mainstream, tanpa mempelajari substansi kritik (naqd) yang sebanding-searas. Sebab itu, kritik sastra tampil, salah satunya bertujuan menilai, menjadi juri untuk menimbang sebuah karya (sastra) berdasarkan kadar ukuran-ukuran tertentu.

Setidaknya ada beberapa fungsi kritik yang dipetakan buku ini. Kritik perlu ada antara lain sebagai entitas penjelas sebuah karya, terlebih saat sebuah karya sering hanya menyembunyikan ihwal di balik apa yang tersurat. Di situ, urgensitas kritik diperlukan justru karena karya sastra bukan semata-mata interpretasi objektif sang pengarang, melainkan karena masih menjadi interpretasi subjektif bagi seorang sastrawan, yang bisa jadi tak mudah untuk difahami pembaca. Tentu, ini selain fungsi kritik sendiri berguna untuk meningkatkan kualitas literer (karya) sastrawan pemula.

Dalam sejarah sastra Arab, perkembangan kritik bermula dari sejarah karya sastra yang digantung-pajangkan di dinding Kakbah sehabis dipentaskan di Pasar Ukaz. Karya seperti itu lazim disebut al-mu'allaqat. Pekan Raya Ukaz yang berlangsung sejak masa jahiliyah itu bukan saja menjadi arena jual-beli aneka barang dagangan, melainkan juga menjadi ajang demonstrasi adu syair antarberbagai penyair dari seluruh pelosok Jazirah Arab. Hal ini menandai betapa iklim sastra sekaligus laju kritiknya saat itu, berkembang pesat.

Muhammad al-Rabi' dalam buku, al-Adab al-Arabi wa Tarikhuhu, setidaknya pernah mencatat ada beberapa kritikus yang melakukan kritik kala itu. Mereka itu seperti Al-Nabigah al-Zibyan yang pernah mengkritik Hasan bin Tsabit soal ketidaktepatannya dalam menggunakan diksi. Kemudian, lahir para kritikus seperti Abu Umar dan al-Usmu'i, sekitar abad kedua hijriah, yang me-review banyak syair jahiliyah dan melakukan studi banding antara satu syair dengan syair yang lainnya. Bahkan buku Kodifikasi Syair al-Usmu'i karena unsur ketelitiannya, dinilai para ahli sebagai buku yang paling memiliki akurasi sastra Arab jahiliyah.

Selanjutnya di abad ketiga hijriyah, muncul kritikus seperti Ibnu Qutaibah yang menulis Al-Syi'r wa al-Syu'ara dan Al-Jahizh yang menulis Al-Bayan wa al-Tabyin. Nabi sendiri suatu kali pernah melakukan kritik terhadap syair-syair haja' (ejekan) yang diluapkan Hassan bin Tsabit, Ka'ab bin Malik, dan Abdullah bin Rawahah, sewaktu mereka melawan syair haja' kaum Quraisy (hlm 56--57).

Selama ini seakan terlihat teori kesusastraan Barat begitu dominan dalam kajian-kajian sastra, termasuk sastra Arab. Padahal kalau kita telusuri, kekayaan perangkat teoritik tradisi Arab sebenarnya tak kalah mentereng. Dalam sejarahnya, karya sastra di luar Barat, yakni tradisi formalisme Arab justru lahir jauh sebelum tradisi formalisme Barat (Rusia) muncul.

Formalisme Arab lahir di abad klasik bersamaan dengan munculnya kajian sastra Arab dengan analisis ilmu balaghoh. Di mana balaghah (formalisme Arab) ini, dalam tradisi kesusastraan Arab digunakan sebagai alat untuk meneliti tindak keindahan bahasa.

Tokohnya semisal Al-Jahiz yang memandang keindahan lafaz (bentuk) sebagai hal yang penting mendahului makna (substansi/isi). Ini juga bisa dibuktikan dengan lahirnya ilmu 'arud, yang pertama kali disusun oleh Khalil bin Ahmad (170 H). Sebuah ilmu yang membahas kesesuaian akhir kata/rima (qafiyah) dan juga ritme/metrum kalimat (wazan/bahr) dalam jagat perpuisian Arab (as-sya'ir Arabi).

Buku ini cukup komprehensif, terlebih ketika mengulas sejarah teori kritik sastra Arab. Selain dilengkapi kajian teoritik mulai teori klasik, romantik, realisme, simbolisme hingga semiotik dan hermeneutik yang mewarnai sejarah sastra Arab, juga ditopang dengan pemetaan karya sastra dan leksikon sastrawan di masa itu hingga sekarang. Terlebih buku ini juga disertai kesimpulan-kesimpulan padat yang tentu amat berguna untuk memudahkan memahami gagasan-gagasan besar di setiap babnya.

Sayangnya, penulis buku ini tak menyertakan kajian perspektif feminis, postkolonial dan dekonstruksi sebagai sebuah kajian teoritik yang juga sama-sama besar. Meski begitu, pembaca tetap bisa menikmati detail keseluruhan textbook ini, karena ulasannya yang lengkap dibarengi contoh kritik yang memadai, lebih-lebih bagi Anda para pegiat teori dan kritik sastra Arab.

Oleh: Misbahus Surur, mahasiswa S-2 pendidikan Bahasa Arab, UIN Maliki, Malang.

(Pernah dimuat Lampung Post, Minggu 3 Januari 2010)

Satire Barthes atas Tulisan

KITA tahu, Roland Barthes adalah sosok pemikir petualang yang sepanjang karirnya tak pernah berhenti memprovokasi pembaca dengan sokongan prinsip-prinsip gagasan baru. Membaca pikiran-pikiran Barthes -misalnya, mengenai dunia penulisan dan gejalanya atau tentang dunia kesusastraan berikut perkembangan kritiknya- kita seperti diajak berpikir-merenung lebih cerdas namun tetap asyik, sublim, dan konsisten. Karena itu, setiap buku barunya seolah mendedahkan ragam persoalan baru dengan sendirinya.

Pemikirannya kerap menikung dari arah yang tak terduga, seakan memang ada begitu banyak kilauan yang memikat dan menarik dari karya-karyanya. Salah satu hal menarik itu adalah konstruksi barunya atas teks/tulisan. Hal itu bermula ketika Barthes mencurigai dan mempersoalkan hakikat gagasan yang terajut dalam tulisan sebagai ''yang tak otentik/asli''. Persoalan itu jugalah yang kemudian mendasari salah satu pemikirannya ihwal keaslian (orisinalitas) tulisan. Meski dalam tahap tertentu, ide tersebut terasa sangat dilematis.

Secara ideal, makna keaslian (orisinalitas) tulisan memang belum beranjak dari kemampuan seorang pengarang (author) untuk mengeramkan anasir kebaruan dalam gagasan. Dalam pemaknaan lu(g)as, sebuah karya literer dapat dikategorikan orisinal sejauh ia mampu mewartakan otentisitas gagasan; belum pernah muncul pada tataran sebelumnya. Namun, alih-alih menelurkan gagasan yang menyokong pendapat itu, Barthes seakan mengelak dan berbalik mengutarakan hal yang ambivalen. ''Tulisan orisinal tidak ada dan tidak akan pernah ada,'' kata Barthes (S.T. Sunardi, Semiotika Negativa, 2004).

Bagi Barthes, satu-satunya kekuatan yang dimiliki pengarang (author) atas tulisan yang dia tatah hanyalah menggunting dan menggabungkannya dalam sebuah rangkaian; mempertemukan berbagai potongan tulisan pada papan atau momen yang sebelumnya tidak pernah saling bertemu. Di hadapan Barthes, sungguh orisinalitas tak pernah diam-mengendap dalam diri pengarang, melainkan hanya pada bahasa yang digunakan untuk mengemas tulisan (text). Dengan kata lain, meskipun sekadar cangkang, sebuah ide/gagasan sungguh tak dapat lepas dari tautan bahasa.

Menurut Barthes, persoalan orisinalitas tidak berhubungan dengan muatan kebaruan dalam tulisan (dalam ide atau gagasannya), melainkan hanya berkait dengan urusan rajut-merajut berbagai tulisan. Semacam rangkaian bahasa yang ter-update. Begitu pula, anggun dan adiluhungnya pikiran seseorang yang selama ini kita anggap baru, kata Barthes, bisa jadi hanya karena polesan bahasanya yang baru. Pendek kata, warna gagasannya yang dicat mengilap, selebihnya -ihwal substansi tulisan- tak pernah mengilau alias tak pernah menyatakan hal baru. Alasannya, karya cipta yang dihamparkan pengarang barangkali tak (pernah) ditatah secara otonom. Pada titik itulah Barthes seperti mengafirmasi kata-kata orang bijak pada sebaris parafrasa berikut: ''Tidak ada yang baru di bawah kolong langit''.

Sejauh dalam idealitas Barthes, hanya pada bahasa, transportasi ide/gagasan berlangsung. Gagasan akan bergerak efektif atau tidak, gampang memproduksi realitas baru atau terhambat, berkelindan dengan watak bahasa sebagai wadahnya. Dalam ranah kajian budaya (cultural studies), kegiatan seperti itu terengkuh oleh analisis struktural, dengan pertanyaan "how it is made", bagaimana sebuah teks terbentuk? Sebuah pertanyaan yang menandaskan wewenang teks untuk terfragmentasi hingga pada bagian-bagiannya yang terkecil. Sebab, sebelum dipecah, teks dalam posisi menyatu. Dan, setelah melalui tahap dan prosedur tertentu, lazim memang kembali menyatu atau disatukan. Mungkin, hanya proses seperti itulah yang dapat membuat sebuah tulisan menjadi baru/orisinal.

***

Lantas, bagaimana dengan klaim orisinal yang menandaskan syarat atau kriteria sebagai ''yang jauh dari tiruan", yang juga berarti kebaruan? Persoalan ''orisinal'' ini tentu saja menjadi sebujur kegusaran tersendiri. Bagaimana tidak, di satu pihak ia tetap kukuh mempertahankan pemaknaan yang benar-benar baru secara kemasan, lebih-lebih dalam gagasan. Sedangkan di pihak lain -termasuk Barthes- mengatakan sebaliknya. Walhasil, orisinalitas mungkin memang butuh pemaknaan ulang. Bahkan secara telak menyangkut kesungguhan analisis dan riset mendalam ihwal suatu masalah. Atau bisa jadi, hanya sebuah gagasan yang menyuarakan realitas sesungguhnya; orisinalitas harus bergantung dan menumpu sepenuhnya dari seberapa jauh kemampuan gagasan yang terbentuk melalui rajutan teks itu berdaya gema; seberapa jauh ia menjawab problematika, bagaimana cara beroperasinya; dan seterusnya. Di samping juga tetap tak lepas dari kemasan bahasa yang benar-benar ranum. Bukankah ide orisinal itu mestinya tak cuma berdegup-mendengung di ruang hampa?

Sayang, arus dan tradisi seperti itu kian hanyut dan bahkan tenggelam oleh senarai dekapan formalitas, godaan gimmick, serbuan prinsip-prinsip cipta dekaden, serta keringnya ikhtiar kreatif yang ujung-ujungnya terkapar oleh watak snobisme. Padahal, peran penting yang "seharusnya" diambil seorang pengarang -yang mulanya ditahbiskan pembaca sebagai satu-satunya subjek yang punya otoritas terhadap makna teks- betapa kian pelik dan terjal. Maka, ketika makna orisinalitas tulisan yang serba disiniskan Barthes sulit ditemukan, paling tidak dan selayaknya termaknai sebagai suatu rajutan yang dibarengi dengan perbalahan panjang serta olah pikir tak kenal henti; kesungguhan eksperimen dan kedalaman riset atas realitas sosial dan problematikanya.

Oleh Misbahus Surur

(Pernah terbit di Jawa Pos, Minggu, 27 Desember 2009)

Selasa, 01 Desember 2009

Menegasikan Renaissance di Eropa


Judul Buku :1434; Saat Armada Besar China Berlayar ke Italia dan Mengobarkan Renaisans
Judul Asli : 1434; The Year a Magnificent Chinese Fleet Sailed to Italy and Ignited the Renaissance
Penulis :Gavin Menzies
Penerjemah :Kunti Saptoworini
Editor :Indi Aunullah
Penerbit :Pustaka Alvabet, Tangerang
Cetakan : I, 2009
Tebal : xvii + 430 hlm


Masihkah kita percaya bahwa manusia pertama yang mengelilingi dunia adalah Magellan, jika ternyata sebelum penjelajah laut Eropa itu mengarungi samudera tahun 1519, diduga ia pernah melihat (bahkan berbekal) sesobek peta yang menurut sumber buku "1434; The Year a Magnificent Chinese Fleet Sailed to Italy and Ignited the Renaissance (diterj. Kunti Saptoworini: 1434; Saat Armada Besar China Berlayar ke Italia dan Mengobarkan Renaisans)", pernah dibuat oleh Martin Waldseemuller bertahun 1507, juga Johannes Schomer di tahun 1515; dua orang kartografer yang belakangan diketahui tidak pernah mengarungi samudera ataupun punya tradisi kebaharian sama sekali. Kebimbangan yang sama akan kita lekatkan pada Columbus dan kapten Cook; dengan pertanyaan yang hampir sama, benarkah masing-masing adalah penemu benua Amerika dan Australia?

Inilah sehimpun fakta lain yang diajukan Menzies, penulis buku dengan judul di atas. Menurut Menzies, jauh sebelum Eropa mengalami puncak Renaissanse, di belahan dunia Timur (China), sebuah peradaban maju dengan capaian pengetahuan tingkat tinggi yang sungguh megah telah dahulu terpancang. Bahkan, buku tersebut mengklaim bahwa Eropa kala itu mendapat suntikkan besar-besaran berbagai jenis pengetahuan dari China. Pendek kata, Eropa bisa menjelma seperti sekarang, karena mencecap putik modernitas dari China. Rangkaian fakta itu misalnya, sebagaimana yang dikukuhkan oleh Theodore A. Wertime dalam buku The Coming of the Age of Steel, pada Bab “Asian influence on European Metallurgy”, peleburan besi dan baja dengan model pembakaran untuk memperoleh kualitasnya yang keras dan kuat, sebagai bahan dasar pembuatan senjata api, bukanlah ide orang-orang Eropa. Tetapi karena semata-mata sumbangsih dan pengaruh pengetahuan China. Di mana China kemudian juga memperkenalkan persenjataan canggihnya ke Eropa, seperti bubuk mesiu, bazoka, mortir, selongsong, peledak, roket dan meriam.

Kita ambil misal mengenai riwayat penemuan bubuk mesiu, ini bermula dari pencarian para alkemis China terhadap “aliksir” (sebuah obat mujarab), melalui riset-riset sederhana. Penemuan ini terjadi di zaman dinasti Tang yang kemudian disempurnakan pada masa dinasti Sung. Mulanya mereka berminat meneliti sulfur, sendawa dan arang. Para alkemis itu, yang pada awalnya mengira sulfur dan cendawa dapat dipergunakan sebagai obat infeksi kulit, malah mendapati sulfur sebagai materi yang mudah terbakar. Setelah mereka mencoba menambahkan campuran sendawa guna mengontrol volatilitasnya, dengan jalan menimbulkan pembakaran parsial, yang bertujuan mengendalikan terbakarnya sulfur. Setelah pada tahap sebelumnya menambahkan arang pada campuran sendawa-sulfur. Sungguh tak disangka, terciptalah ledakan-ledakan. Inilah riwayat orang-orang China menemukan bubuk mesiu, jauh sebelum peradaban Barat mengembangkannya beberapa tahun kemudian.

Demikian pula dalam ilmu percetakan, sepanjang ini ingatan kita akan terhenti pada sosok penemu Eropa berkebangsaan Jerman, Johannes Gutenberg. Atau bahkan pengakuan sebagian orang Eropa akan sosok bernama Laurens Jonszoon Coster, yang dianggap pencipta mesin cetak sederhana sebelum Gutenberg (1440). Padahal mesin cetak (balok) pertama dibuat oleh orang China. Mesin yang kemungkinan diciptakan antara masa dinasti Sui dan Tang itu, didasarkan pada teknik memindahkan teks dan gambar yang dicukil dalam bentuk gambar timbul pada cap dan pilar batu ke permukaan lain. Ini dikuatkan oleh riset Blaise Aguera Y Arcas dan Paul Needham dari Universitas Princeton, yang menemukan bukti dan kenyataan bahwa Injil Gutenberg, demikian pula buku-buku pertama buatan Gutenberg, tidak dibuat dengan menggunakan mesin cetak balok bergerak. Tentu jika informasi kedua peneliti ini benar, maka terpatahkanlah klaim Gutenberg sebagai penemu mesin cetak, yang sepanjang ini telah jadi pengetahuan umum saat kita masih duduk di bangku sekolahan.

Kemajuan mesin cetak China ini pada tahap selanjutnya diteruskan dengan diciptakannya mesin cetak bergerak oleh Bi Sheng sekira tahun 1051. Setelah itu juga ada yang membuat balok pencetak yang dicukil dari kayu. Hasilnya, misalnya, sekitar tahun 1313, Whang Zhen, seorang ahli agronomi dari masa dinasti Yuan mencetak karya monumentalnya, Nung Shu (Risalah Tentang Pertanian) menggunakan balok kayu cetak bergerak, yang merupakan penyempurnaan dari beberapa penemuan di atas. Bahkan, Leonardo da Vinci mempelajari serangkaian gambar, mesin dan ilmu teknik yang mengagumkan di Florensia (Italia), dengan berbekal buku salinan “Nung Shu” karya Whang Zhen tersebut.

Bukan itu saja, Galileo Galilei, orang Eropa pertama yang dianggap menemukan teleskop canggih dalam bidang astronomi, di mana ia mematahkan gagasan Ptolemeus yang mengatakan bumi sebagai pusat alam semesta, sekaligus juga meruntuhkan ortodoksi Gereja, ternyata jauh sebelum itu, sekitar tahun 364 SM, seorang astronom China, Gan De, telah mendahului Galileo. Begitu pula apa yang ditemukan Johannes Kepler mengenai tiga hukum pergerakan planetnya, betapa itu sama sekali tak ada bedanya dengan apa yang digagas astronom China, Guo Shoujing tiga abad sebelumnya.

China memang menyimpan serpihan-serpihan pengetahuan dan teknologi yang teramat mengagumkan. Bukti itu sekarang bisa dilihat, misalnya pada kecanggihan seni arsitektur dan rancang bangun Tembok Besar, Kota Terlarang, dan yang tak kalah megah adalah pembuatan Kanal Besar yang telah memakan waktu ribuan tahun, sampai-sampai sang penjelajah lautan, Marco Polo pun terkagum-kagum. Tentu selain China juga dikenal sebagai negara industri sutra yang berkualitas tinggi. Maka, pantas saja bila dulu Nabi Muhammad SAW sempat berpesan untuk menimba ilmu pengetahuan meski sampai ke negerinya Sun Yat Sen ini.

Adapun kemajuan Barat (Eropa) saat itu, sesungguhnya baru dimulai ketika pada tahun 1434 laksamana Cheng Ho bertolak dalam pelayaran mengelilingi dunia, yang juga sempat berkunjung ke beberapa wilayah di dunia seperti Malaka, Jawa, Alexandria, Kairo hingga Vanesia dan Florensia (Italia). Menurut keterangan Paolo Toscanelli, duta besar China ini (Cheng Ho) sampai di Florensia di masa pemerintahan Eugenius IV. Inilah tahun pertama kali China mengobarkan renaisans di Eropa. Di mana 18 tahun kemudian dengan peta kiriman Toscanelli, Cristopher Columbus dan tokoh-tokoh setelahnya baru memulai penjelajahan samudra, jauh setelah armada China mengelilingi dunia.

Penjelajahan dunia oleh orang-orang China ini pada mulanya adalah sebuah proyek dan misi besar. Proyek mega raksasa yang dikepalai navigator ulung Cheng Ho ini dengan membuat dua ribuan armada kapal. Kabarnya -seperti yang diinformasikan oleh Menzies-, proyek ini hingga berakibat pada penggundulan hutan di China. Bahkan sampai menjarah hutan negeri tetangga, seperti Vietnam. Sedang misi pelayaran mengarungi dunia itu adalah ambisi besar sang kaisar untuk membawa seluruh dunia ke dalam harmoni Konfusius dengan kerangka sistem upeti. Sasarannya seantero jagad, termasuk wilayah-wilayah Barat yang dihuni “kaum barbar berhidung panjang” –sebutan mereka untuk orang-orang Barat, Eropa- (hlm. 2). Kebijakan ini terjadi di masa kaisar Zhu Di hingga masa kaisar Zhu Zhanji. Bahkan kaisar Zhu Zhanji secara sadar menyatakan, mundurnya China dari posisinya sebagai Ratu lautan akan memiliki dampak buruk, -termasuk kenyataan bahwa kaum barbar (Eropa) akan menghentikan pembayaran upeti. Inilah rupanya salah satu misi mereka mentransfer pengetahuannya ke Eropa tahun 1434. Dengan mengajari beragam pengetahuan seperti bahari, navigasi, geografi, astronomi, kartografi, percetakan, persenjataan juga ragam pengetahuan lain yang dianggap penting dalam pelayaran. Tujuannya tidak lain supaya Eropa dapat menyerahkan upeti sendiri langsung ke China dengan modal pengetahuan itu.

Terkait sejarah pelayaran orang-orang China ini, Menzies juga memaparkan sejumlah bukti mencengangkan. Bukti puncaknya adalah ketika tahun 2003 silam, Cedrik Bell, seorang insinyur yang tekun dan disiplin melakukan penelitian mandiri dengan bantuan anomali magnetik di selatan pulau Selandia Baru, melontarkan sebuah penemuan akan kemungkinan kapal dalam jumlah besar pernah kandas dan remuk di pesisir tenggara pulau itu karena terjangan tsunami. Awaknya yang bertahan hidup dapat mencapai pantai dan membuat barak batu sebagai tempat tinggal. Mereka menanam padi, membuat tambak ikan juga merangkai alat pelebur logam untuk membuat besi. Padahal suku pertama yang dianggap mendiami Selandia Baru, yakni suku Maori, tidaklah melebur besi. Bahkan pada bab terakhir buku "1434; The Year a Magnificent Chinese Fleet Sailed to Italy and Ignited the Renaissance" ini, Menzies sempat menyinggung berbagi kemungkinan yang masih diselimuti kabut misteri. Misalnya, munculnya jejak peradaban besar di selatan Amerika (selain peradaban suku Inca dan Maya) yang juga punah, sebab hempasan gelombang tsunami. Sebagaimana itu juga menimpa armada Cheng Ho, saat memasuki benua Australia.

Buku ini sunggguh memaparkan begitu banyak informasi baru dan setumpuk bukti pelayaran bangsa China menjelajahi dunia. Kendati pertemuan sang navigator ulung yang juga seorang muslim (Cheng Ho) dan wakil daerah Florensia (Italia) saat itu, tak direkam secara lebih detail oleh Menzies. Gambaran sederhana dari pertemuan itu hanya akan kita peroleh dari ulasan Menzies melalui surat-surat Toscanelli, yang mengakui kedatangan Cheng Ho di negerinya, Florensia. Meskipun begitu, penjelasan yang lebih komprehensif akan kita dapatkan bila kita juga membaca karya Menzies sebelumnya, yang diterjemahkan dengan judul 1421: Saat China Menemukan Dunia (Pustaka Alvabet, 2007). Selamat membaca.

Oleh: Misbahus Surur, peminat sejarah, sekolah S-2 di UIN Malang

Selasa, 07 April 2009

Jalan Terjal Bung Kecil



Jalan diplomasi rupanya bagi sebagian orang masih bisa menyisakan celah pincang. Bahkan dalam rentang sejarah bangsa ini, ada beberapa tokoh yang antipati dan menentang habis-habisan jalan atau cara-cara seperti itu. Sebut saja, salah satunya dan yang paling keras adalah Tan Malaka. Dalam skala besar mencapai kemerdekaan negeri ini, ia adalah sosok yang sangat anti pada cara-cara diplomasi, kooperatif atau jalan persuasif semacamnya. Mengenai jalan yang ditempuhnya itu, Tan telah menunjukkan dirinya sebagai tipikal manusia yang anti imperialisme murni. Ia pernah berujar: “Bangsa Indonesia yang sejati belum punya riwayat sendiri selain perbudakan. Riwayat bangsa Indonesia baru dimulai jika mereka terlepas dari tindasan kaum imperialis”. Beberapa buah pikirannya mengenai langkah-langkah jitu mencapai kemerdekaan negeri ini, telah ia rangkum dan terdokumentasikan secara apik dalam buku, semisal “Merdeka 100%” dan ”Naar de Republiek Indonesia”. Namun berbeda dengan Tan, Sutan Sjahrir punya cara sendiri untuk menggapai revolusi negerinya. Meskipun peran Bung kecil ini, --demikian dulu ia akrab disapa (mungkin karena ukuran badannya yang terlampau mungil), dalam panggung sejarah, sering disiniskan tokoh-tokoh seangkatannya.

Sjahrir adalah sosok dengan seabrek ide-ide brilian yang seringkali dinilai paradoksal dan melawan arus. Seolah tak sejalan dengan cara-cara dan berbagai usaha perjuangan tokoh-tokoh sezamannya. Bisa jadi, ini berkait dengan pengaruh pendidikan Belanda yang dienyamnya, begitu pula beberapa organisasi pergerakan yang pernah diikutinya. Karena bagaimanapun, pendidikan ala Leiden yang telah ia raih itu, meskipun tak selesai, sedikit banyak telah mem-Baratkan gagasan-gagasannya. Sebagaimana kata teman politiknya, Salomon Tas, yang juga ketua perkumpulan mahasiswa sosial Amsterdam, saat itu: ”Kepribadian Sjahrir telah berkembang dalam iklim Barat”.

Seluk beluk serta pergaulan luasnya dengan beberapa organ kiri di Belanda seperti misalnya, lingkungan mahasiswa sosial ASDSC (Amsterdam Sociaal Democratische Studenten Club) dan partai sosialis SDAP (Social Democratische Arbeider Partij) yang dikomodori Sneevlit, tak pelak membikinnya tahu siasat apa dan cara bagaimana yang harus ia lakukan untuk melawan bangsa kolonialis Belanda. Kendati bagi sebagian orang nantinya, kerap pula langkah-langkah perjuangannya itu dicap lembek dan terlampau elitis. Pengalaman politiknya dalam partai-partai sosialis, semacam SDAP, dalam kadar tertentu sangat berpengaruh besar pada gerakan politik Sjahrir. Kalau ditelisik dalam panggung sejarah Indonesia, partai inipun (baca: SDAP) ternyata ikut menyumbang gagasan lahirnya kebijakan baru Belanda di tanah Hindia, yakni ”Politik Etis” tahun 1895. Menggantikan kebijakan sistem Tanam Paksa (Cultuur Stelsel) yang dinilai sangat menyengsarakan rakyat. Meskipun dalam beberapa hal, kebijakan etis itu tak terlalu signifikan menanggulangi penderitaan rakyat negeri jajahan.

Sebenarnya ada beberapa pemikiran yang membikin Sjahrir menjadi seperti itu. Semuanya berangkat dari kecintaannya pada negeri ini. Misalnya, ketika mengambil sebuah tesis -yang nantinya berpengaruh besar pada tiap-tiap kebijakan yang akan ia ambil-, khususnya saat ia menjabat sebagai perdana menteri. Sedikit banyak ia memperhatikan perkembangan dunia luar, seperti iklim perpolitikan di Eropa dan Asia. Ia berpendapat bahwa nasion itu harus ditempatkan sejajar lebih tinggi dan lebih penting dari sebuah pribadi-pribadi (individualisme). Di sini, Sjahrir tak menafikan bahwa tiap negara adalah sarang bagi tumbuh kembangnya individualisme. Tentang nasionalisme, Sjahrir punya pemikiran yang lebih universal dari Soekarno. Jika Soekarno memaknai nasionalisme Indonesia sebagai nasionalisme yang khas dengan kepribadian Timur, Sjahrir punya pendapat lain. Menurut Sjahrir, nasionalisme adalah proyeksi kejiwaan dari semangat rendah diri dalam sikap kolonial antara kolonialis dan inlander (de projectie van het inferioriteits-complex, 10 hlm. 178, dalam Daniel Dhakidae, 2009). Dalam arti yang agak lugas, nasionalisme juga dimaknai Sjahrir sebagai lahan laten berkembangnya bibit keserakahan dan nafsu berkuasa.

Garis politik Sjahrir ini tercermin lewat beberapa buku. Misalnya dalam buku ”Renungan dan Perjuangan”, ia melontarkan kritik tajam terhadap politik moral para pemimpin saat itu. Ia mengatakan: ”Politik untuk orang-orang kita di sini bukan berarti: perhitungan, melainkan bertindak etis, berbuat dan bersikap moral tinggi. Pemimpin-pemimpin haruslah pahlawan-pahlawan, nabi-nabi”. Sjahrir juga meyakini, persekutuan nasionalisme dengan individu dapat menghasilkan anak haram otoritarianisme. Karena itu, ia berharap nasionalisme harus tunduk pada sesuatu yang membuatnya tidak otoritarianis, totalitaris, diktatoris dan seterusnya.

Langkah-langkah yang selanjutnya terlihat sangat kontroversial dari Sjahrir dalam memainkan keyakinannya ini, misalnya adalah pada perundingan Linggarjati. Perundingan yang ia ikhtiarkan sebagai batu loncatan menuju tangga revolusi dan kemerdekaan Indonesia itu, dinilai banyak pihak sangat merugikan Indonesia. Kendati sesungguhnya manfaat itu baru bisa dirasakan setelah itu, ketika diteliti dan diapresiasi pada saat-saat sekarang ini. Manfaat itu dalam skala global misalnya, bergeraknya persoalan Indonesia ke ranah internasional ketika sebelumnya masih menjadi persoalan lokal (berkutat pada masalah intern Indonesia dengan negeri penjajah, Belanda).

Namun, beberapa langkah Sjahrir ini, khususnya bagi kaum revolusioner radikal atau kaum muda yang militan yang tak searus kerap menuai kecaman, dipandang sebagai langkah lemah yang kalah, menggadaikan negara bahkan sama sekali tak mencerminkan irama dan watak perjuangan saat itu. Terlepas dari itu, langkah ini (baca: menerjang mainstream), bagi Sjahrir dan kaum moderat yang sefaham, menjadi langkah taktis, yang selain tidak biasa tentu bukan sama sekali tanpa perhitungan.

Dus, kendati keberbedaan perjuangan itu tak terpungkiri meniscayakan keragaman cara & langkah, namun dalam kadar tertentu punya titik temu; mengabdi pada rakyat dan mencapai Indonesia merdeka 100 %. Karena itu, bagaimanapun langkah serta gagasan perjuangan tokoh bangsa kita waktu itu, seperti Sjahrir dan tokoh-tokoh lain semisal Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Amir Sjarifoeddin, dan seterusnya, saat ini sungguh layak diteladani, lebih-lebih oleh para pemimpin kita dewasa ini, sebagai langkah adiluhung yang punya preferensi jelas untuk menjawab kondisi sosial rakyat Indonesia saat itu. Karena itu, memperingati 100 tahun Sutan Sjahrir, memaklumkan ingatan panjang akan retas sebuah watak perjuangan hibrida dan nilai kehidupan organik.

Toh meskipun di antara mereka (para tokoh itu), banyak yang berbeda dan berseberang jalan, nyatanya mereka punya niatan tulus memberikan sepenuh perjuangan dan pengabdian demi cintanya terhadap bangsa dan negara. Dan terlepas dari kelebihan serta kelemahan masing-masing, mereka adalah sosok yang meletakkan bangunan pikiran-pikirannya dengan fondasi berbagai masalah sosial bangsa & sengkarutnya. Lantas bagaimana dengan pemimpin-pemimpin bangsa serta para calon wakil rakyat kita saat ini? Sudahkah mereka merujuk pada alur hidup tokoh-tokoh bangsa itu. Adakah mereka telah benar-benar berkiblat pada gerak para Founding Father tersebut?

Oleh: Misbahus Surur, penghayat sejarah